Senin, 01 Agustus 2005

Jaya Sukamto: Susah-susah Gampang Berbisnis Jus Buah

Oleh: Stefanus Osa Triyatna

Kita butuh makan. Kita pun butuh minum. Perubahan gaya hidup, ditambah lagi rentannya kondisi tubuh terhadap serangan penyakit, membuat pola pikir kita bergeser, bagaimana kita bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat?

Perasan aneka buah segar atau lebih akrab disebut juice (jus) merupakan jalan termudah untuk secara cepat mendapatkan minuman yang menyegarkan dan menyehatkan. ”Dulu, tidak ada orang yang pernah serius berbisnis jus,” kata Jaya Sukamto (41), yang sebetulnya lulusan studi teknik elektro di Colorado, Amerika Serikat.

Awalnya, tahun 1992, bisnis jus itu dimulai dengan mengandalkan tujuh tenaga kerja, termasuk Jaya sendiri. Mulai dari pukul 19.00 hingga pukul 23.00, jeruk-jeruk impor itu diperas. Biar cuma menghasilkan sedikit, pasokan jus segarnya sudah dilirik sejumlah hotel di Jakarta.

Rata-rata hotel tersebut memesan 100-120 liter per hari. Bagi Jaya, jumlah pasokan jus segar memang tidak perlu banyak. Yang penting, pengirimannya konstan dan berkelanjutan mengingat jus segar yang dikirim ke hotel diperkirakan tingkat awetnya cuma 48 jam.

Setelah tiga tahun berjalan, Jaya pun memberanikan diri berkongsi dagang dengan Australia, dengan nama produk Berri Juice. Lambat laun, jumlah karyawan produksinya bertambah hingga 16 orang.

Proses produksi yang dilengkapi peralatan canggih untuk memperoleh kebersihan dan higienitas membuat hasil produksinya meningkat tajam. Dengan komposisi tambahan sari buah (konsentrat) secukupnya, dia pun menciptakan jus segar dalam kemasan botol yang dapat bertahan selama tujuh minggu.

Kini, produksinya sudah beraneka macam, antara lain jus mangga, nanas, jambu, jeruk, apel, lemon, stroberi, serta kombinasi jeruk dan mangga, jeruk dilengkapi vitamin A, C, dan E. Untuk produk dengan kandungan jus lebih tinggi yang biasanya dilirik kalangan kelas menengah ke atas diciptakan jus jeruk, mangga, apel, dan jambu biji.

Bisnis di Indonesia

Bisnis buah segar di Indonesia memang susah-susah gampang. Jus apel, misalnya. Konsumen sudah begitu akrab dengan jus apel yang berwarna bening kecoklatan. Padahal, jika ingin memperoleh keasliannya, warna jus apel justru coklat keruh. Terus terang, ujar Jaya, itulah selera sekaligus kebiasaan konsumen. Produsen terkadang memang harus mengikuti selera konsumen.

Siapa sangka, bisnis jus yang ditekuni itu telah merambah ke hotel-hotel bintang empat dan lima di Jakarta dan Bali. Bahkan, lelaki bertubuh tinggi besar dan berkulit terang itu juga membidik sekitar 100 pedagang ritel berskala besar (supermarket dan hipermarket) di Jakarta dan Surabaya.

Kesusahan lain yang juga dialami oleh para pebisnis berskala besar adalah memperoleh pasokan buah secara kontinuitas. Buah jeruk, misalnya. Pelopor importir ikan salmon dari Tasmania itu mengaku harus betul-betul memperhatikan waktunya musim buah jeruk.

Jeruk Australia biasanya melimpah pada September hingga Februari, sedangkan jeruk Mesir pada bulan Januari hingga bulan Mei.

”Nah, selama Juni hingga Agustus sebetulnya merupakan waktu kritis. Untuk itulah, tanpa mengurangi standar kualitas, kami mencari pasokan jeruk lokal,” kata Jaya, yang biasanya memasok jenis jeruk kambing dari Madura.

Dia menyebutkan, biaya memasok jeruk lokal biasanya lebih mahal daripada mengimpor jeruk dari Australia dan Mesir. Inilah sulitnya berbisnis di Indonesia. Mahalnya harga jeruk lokal tampaknya dipengaruhi oleh pungutan-pungutan liar. Apalagi, sejak otonomi daerah, pungutan semakin sering terjadi di tengah perjalanan.

Padahal, dari sisi produksi, satu liter jus baru dapat diperoleh dengan memproses sebanyak 2,6 kilogram jeruk lokal. Akan tetapi kalau dari jeruk impor cuma membutuhkan 2 kilogram.

”Walaupun jeruknya berbeda, kualitas jus tetaplah sulit dibedakan. Sebab, kami juga melibatkan peneliti khusus yang selalu meneliti tingkat keasaman dan kadar gulanya,” kata Jaya, sambil menunjukkan ruang laboratorium dan memperkenalkan penelitinya.

Menghadapi kondisi sulit itu, Jaya tetap percaya diri. Bukti dari itu adalah derasnya permintaan konsumen membuat Jaya mendirikan pabrik sederhana di Bali. Tentunya, usaha kerasnya itu dijalani, setelah melalui penelitian mulai dari potensi dan segmen pasar yang membutuhkan jus buah. Penelitiannya diprediksikan untuk 20 tahun ke depan.

Selain jus, diam-diam Jaya selalu mengawali peluang bisnis komoditas unik dan jarang kompetitor. Misalnya, memasarkan wagyu beef yang kini terdapat di sejumlah restoran Italia. ”Betul sekali, saya memang orang yang menyukai tantangan, apalagi jika peluang usaha itu belum menjadi mainan orang lain,” kata Jaya.

Dia juga memperkenalkan seafood dari Australia, seperti kepiting blue swimmer, tiram segar, dan kerang. Jaya tidak kenal lelah, bahkan dia menggeluti usaha impor anggur putih dan anggur mereh (red and white wine) dari Australia.

Terung Belanda Si Jagoan Antioksidan

Natural Healing Tue, 23 Sep 2008 15:00:00 WIB

Bila jalan-jalan ke Brastagi, Sumatera Utara, sempatkan membeli terung belanda, buah khas daerah tersebut. Selain bentuk dan warna menarik, terung belanda memiliki rasa yang enak dan segar, sehingga sering diolah menjadi jus.

Terung belanda atau dikenal dengan Tamarillo berbeda dibandingkan terung sayur yang biasa kita makan. Bentuknya seperti tomat, tetapi lebih lonjong. Warna kulitnya ada yang ungu gelap, merah darah, oranye, atau kuning, dengan garis-garis memanjang yang tidak begitu jelas.

Buah mentah berwarna hijau agak abu-abu. Warna ini berubah jadi merah kecokelatan bila sudah matang. Di dalam buah terdapat daging buah yang tebal, berwarna merah kekuningan, dibungkus selaput tipis yang mudah dikelupas.

Rasanya seperti kombinasi buah tomat dan jambu biji, teksturnya seperti buah plum. Karena rasanya sangat eksotik, terung belanda terkenal di Selandia Baru. Buah ini jarang dikonsumsi segar karena rasa asam manisnya yang menyengat. Biasanya dibuat jus atau dimasak seperti sayur asam pedas.

Terung belanda mengandung betakaroten cukup baik. Menurut Kumalaningsih (2006), mencapai 50 mg per 100 gram buah. Kadar tersebut sudah cukup tinggi untuk berperan sebagai sumber antioksidan alami. Kebutuhan betakaroten per hari hanya sekitar 3-6 mg.

Betakaroten salah satu jenis karotenoid yang terdapat pada buah berwarna hijau tua atau kuning tua. Di tubuh, betakaroten diubah jadi vitamin A. Namun, betakaroten dikonversikan jadi vitamin A secukupnya. Selebihnya akan tersimpan dalam bentuk betakaroten. Betakaroten juga merupakan antioksidan yang sangat efektif dibandingkan komponen lain.

Vitamin A dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mata, juga meningkatkan imunitas tubuh. Hal tersebut dimungkinkan karena vitamin A dapat meningkatkan fungsi sel darah putih, baik sebagai antibodi maupun antivirus.

Studi Hellen Keller International (HKI-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan) di beberapa negara menunjukkan bahwa kecukupan vitamin A menekan angka kematian 25 persen pada anak usia balita. Studi Amy L. Rice di Aceh menunjukkan, anak yang cukup mendapat vitamin A memiliki risiko kebutaan 25 persen lebih rendah.

Vitamin A merupakan vitamin yang paling sedikit dikonsumsi masyarakat Indonesia. Studi tahun 2001 oleh Nutrition and Health Surveillance System (NSS) bekerja sama dengan HKI dan Departemen Kesehatan RI, menunjukkan 50 persen anak Indonesia usia 12-23 bulan tidak cukup mengonsumsi vitamin A dari makanan sehari-hari.

Tabel 1. Komposisi gizi per 100 gram terung belanda dibandingkan kebutuhan per hari untuk orang dewasa

Zat gizi

Terung
belanda
per 100 G

Kebutuhan pada pria

Kebutuhan pada perempuan

19-64
tahun

64 tahun
keatas

54 tahun
keatas

Hamil

Menyusui

Vitamin A (SI)

5.600

7.000

6.000

5.000

+2.000

+3.500

Vitamin B (mg)

0,03-0,14

1,1

0,9

0,7

+0,2

+0,4

Vitamin B2 (mg)

0,01-0,05

1,7

1,3

1

+0,3

+0,5

Vitamin B6 (mg)

0,01-0,05

1,7

1,3

1,0

+0,3

+45

Vitamin C (mg)

15-42

40

40

30

+30

+2,5

Vitamin E (mg)

2

10

10

7

+0

+5

Niasin (mg)

0,3-1,4

19

16

11

+2

+0

Kalium (g)

0,28-0,38

1,95-5,46

1,95-5,46

1,95-5,46

+0

+0

Natrium (g)

0

0,92-2,30

0,92-2,30

0,92-2,30

+0

+0

Besi

0,3-0,9

7

7

5-7

+20

+0

Seng

0,1-0,2

12

12

45

+4

+6

Protein

1,4-2

55

55

45

+6

+16

sumber: Clinical Handbook, NZ Dietetic Assoc. Inc (1995) dalam Kumalaningsih (2006)

Angka kecukupan gizi vitamin A di usia 0-9 tahun berkisar 3.000-4.000 SI, sedangkan menginjak dewasa jadi 5.000-7.000 SI. Wanita hamil membutuhkan tambahan sebesar 2.000 SI dan ketika menyusui 3.000-3.500 SI. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan konsumsi 100 gram terung belanda setiap hari.

Terung belanda juga cumber vitamin C, yang berfungsi sebagai antioksidan karena menjaga kesehatan sel, meningkatkan penyerapan zat besi, dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bagi pria, antioksidan ini memperbaiki mutu sperma dengan cara mencegah radikal bebas merusak lapisan pembungkus sperma.

Di samping sebagai antioksidan, vitamin C berfungsi menjaga dan memelihara kesehatan pembuluh kapiler, gigi, dan gusi. Menurut Kumalaningsih (2006), kandungan vitamin C pada terung belanda cukup untuk pencegahan penyakit.

Masa simpan terbatas

Seperti buah lain, terung belanda mengandung serat cukup baik, 2 persen serat atau 2 gram per 100 gram buah. Merupakan serat larut yang mudah difermentasi bakteri.

Serat penting untuk pencernaan karena menyerap air dan melunakkan feses (tinja). Juga mencegah penyakit jantung koroner karena mencegah kegemukan, penggumpalan darah, dan aterosklerosis.

Tabel 2. Kadar zat gizi terung belanda dibandingkan dengan buah-buahan lainnya (per 100 g)

Komoditas

Vitamin A (SI)

Vitamin E (mg)

Vitamin C (mg)

Kalsium (mg)

Terung belanda

1

5.600

2

42

18

Pepaya

2

365

0

78

23

Pisang

3

950

0

10

10

Wortel

4

12.000

0,5

6

39

Terung belanda juga merupakan sumber vitamin E. Kebutuhan tubuh akan vitamin E 8-10 mg per hari. Berarti, untuk pemenuhan kebutuhan tubuh akan vitamin E, cukup konsumsi terung belanda minimal 400 g.

Vitamin E mencegah oksidasi zat lain. Itulah sebabnya vitamin tersebut diberi julukan sebagai antioksidan primer. Radikal bebas yang sangat berbahaya dapat dihasilkan dari oksidasi zat lemak dan bisa menimbulkan penyakit kanker. Bila di dalam tubuh kita terdapat cukup vitamin E, oksidasi lemak tersebut tidak akan terjadi.

Terung belanda dijual dalam keadaan setengah matang. Buah akan matang setelah disimpan beberapa hari. Ditandai adanya perubahan warna, aroma, tekstur, rasa. Namun, umur simpannya terbatas. Pada kondisi penyimpanan yang baik, dapat dikonsumsi segar hingga 14 hari. Setelah itu akan terjadi pembusukan dan akhirnya tidak layak lagi dikonsumsi.

Terung belanda biasanya dibuat jus atau sari buah. Minuman ini sebaiknya disajikan setelah konsumsi makanan berlemak tinggi. Selain rasa asamnya dapat membantu membuang lemak, komponen antioksidan mencegah radikal bebas yang masuk melalui makanan berlemak, terutama yang dipanggang, dibakar, atau digoreng.

Warna terung belanda sangat menarik, memudahkan untuk hadir dalam berbagai bentuk olahan, Seperti es krim, topping pada yoghurt, salad, atau dibuat sayur.

Oleh:
Prof. DR. Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan dan Gizi

Juice True, jus buah yang sebenar-benarnya…

Salam Juicemania…

Blog para Juicemania ini dibuat bagi siapa saja yang tertarik soal juice